Halaman

    Social Items

Aku pernah terjatuh dan terluka, dan itu dipastikan sangat perih sekali. 
Menahan sakit dan berusaha menjadi obat untuk sakitku sendiri. Aku jatuh dicerita yang aku pilih sendiri.

Bahkan aku pernah meyakinkan diriku sendiri di hadapan cermin, tak akan ada kisah lagi setelah ini. Cukup ini dan hanya ini.

Tapi semua berubah ketika aku mengenal mu. Aku menarik kembali semua ucapan tentang penolakan ku akan kisah yang baru. Aku terbuai dan masuk dalam cerita yang harusnya tak ku jalani. Aku terlanjur jalan.. Ya, telah terlanjur ku berjalan.

Kamu, telah menjadi sesuatu yang ada di hati ini. Aku tidak butuh waktu lama berhari-hari untuk memantapkan diri yakin akan sosokmu. Mungkin aku terlalu bahagia.
Kamu berhasil membuat aku merindu ketika kamu jauh.
Kamu bisa membuat aku menangis karena merindu.
Kamu bisa membuat aku meneteskan air mata karena telah mengenalkan padaku bagaimana diposisikan sebagai orang yang paling terspesial.
Semua indah.
Lebih tepatnya semua pernah indah.

Kita pernah sama-sama tersenyum, kita pernah sama-sama saling marah ketika komunikasi kita sedikit terganggu.
Kita pernah sama-sama hampir tak bisa menghabiskan waktu tanpa bergandeng tangan. Kita sempat tak ingin melepaskan pandangan. Kita sempat sama-sama tak ingin berhenti menyapa meski hanya lewat pesan singkat.

Hingga karena sebuah kesalah pahaman, itu awal dari semua sakit disela bahagia kita.
Aku juga belum mengerti, posisi apa ini?
Apa aku yang selama ini masuk ke kehidupanmu yang sedang dilema karena masalalu atau memang ini adalah cerita manusiawi yang ketika semua bahagia jadi hilang hanya karena satu bahkan dua kepedihan?

Aku belum mengerti.
Yang jelas semua kata-kata yang dulu hampir setiap hari jadi alasan kamu dan aku tersenyum, tiba-tiba jadi alasan tuk aku menangis.
Rasanya aku tak ingin pesan singkat ataupun kata-kata dari mulutmu terbaca atau terdengar lagi. Semua terkesan ketus.
Semua menyakitkan.
Semua kini jadi alasan aku untuk menangis.

Kadang aku bertanya pada Tuhan, kenapa keadaan ini ada setelah aku mulai membuka hati dan bersiap dengan cerita baru?

Apa kamu datang hanya untuk membagi sedikit bahagia padaku dan lalu pergi lagi?

Ini lebih menyakitkan dari kesakitan beruntun beberapa tahun yang lalu.

Kamu tidak perlu membaca semua yang aku tulis. di sini (hati) nama kamu sudah terlanjur ada dan menetap. Aku tau, ini hanya sekedar nama. Bukan sosokmu.

Sekarang aku harus kembali berfikir tuk kembali mengobati hati. Hal yang paling aku takutkan tiba-tiba terjadim

Apa kamu tau, setiap harinya aku berjuang untuk melupakan dan menganggap semua ga pernah terjadi, tapi sulit.
Betapa mahal kebahagiaan itu hingga aku harus membayarnya dengan air mata setiap aku mengingat prilakumu. Ini sakit. Semua karena aku telah terlanjur sayang.

Tuhan, seandainya cerita ini ga pernah ada. Mungkin kini aku tidak perlu melakukan perjuangan apapun tuk kembali menata hati aku.
Kamu yang selalu meminta aku tuk genggam tanganmu kemana pun kamu pergi, tiba-tiba harus menggepalkan tanganku tuk kuat ketika berjalan sendiri. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu saat aku membuka mata.
Aku bagaimana? Serapuh apa? Sesakit apa? Apa pernah terpikir itu?

Apa bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya jadi aku?
Ketika mereka bertanya kemana kamu. Aku bisa apa? Biaskah kau bayangkan bagaimana rasanya jadi aku ketika aku harus menahan tangis ketika mengingat semua kebohonganmu.

Aku yakin luka ini akan sembuh.
Tapi aku tak yakin bahwa aku akan baik-baik saja ketika aku kembali mengingat penyebab dari luka ini.



Baca Juga Artikel Mengenai :





DIARY DEPRESIKU

Billy Grafika

Aku pernah terjatuh dan terluka, dan itu dipastikan sangat perih sekali. 
Menahan sakit dan berusaha menjadi obat untuk sakitku sendiri. Aku jatuh dicerita yang aku pilih sendiri.

Bahkan aku pernah meyakinkan diriku sendiri di hadapan cermin, tak akan ada kisah lagi setelah ini. Cukup ini dan hanya ini.

Tapi semua berubah ketika aku mengenal mu. Aku menarik kembali semua ucapan tentang penolakan ku akan kisah yang baru. Aku terbuai dan masuk dalam cerita yang harusnya tak ku jalani. Aku terlanjur jalan.. Ya, telah terlanjur ku berjalan.

Kamu, telah menjadi sesuatu yang ada di hati ini. Aku tidak butuh waktu lama berhari-hari untuk memantapkan diri yakin akan sosokmu. Mungkin aku terlalu bahagia.
Kamu berhasil membuat aku merindu ketika kamu jauh.
Kamu bisa membuat aku menangis karena merindu.
Kamu bisa membuat aku meneteskan air mata karena telah mengenalkan padaku bagaimana diposisikan sebagai orang yang paling terspesial.
Semua indah.
Lebih tepatnya semua pernah indah.

Kita pernah sama-sama tersenyum, kita pernah sama-sama saling marah ketika komunikasi kita sedikit terganggu.
Kita pernah sama-sama hampir tak bisa menghabiskan waktu tanpa bergandeng tangan. Kita sempat tak ingin melepaskan pandangan. Kita sempat sama-sama tak ingin berhenti menyapa meski hanya lewat pesan singkat.

Hingga karena sebuah kesalah pahaman, itu awal dari semua sakit disela bahagia kita.
Aku juga belum mengerti, posisi apa ini?
Apa aku yang selama ini masuk ke kehidupanmu yang sedang dilema karena masalalu atau memang ini adalah cerita manusiawi yang ketika semua bahagia jadi hilang hanya karena satu bahkan dua kepedihan?

Aku belum mengerti.
Yang jelas semua kata-kata yang dulu hampir setiap hari jadi alasan kamu dan aku tersenyum, tiba-tiba jadi alasan tuk aku menangis.
Rasanya aku tak ingin pesan singkat ataupun kata-kata dari mulutmu terbaca atau terdengar lagi. Semua terkesan ketus.
Semua menyakitkan.
Semua kini jadi alasan aku untuk menangis.

Kadang aku bertanya pada Tuhan, kenapa keadaan ini ada setelah aku mulai membuka hati dan bersiap dengan cerita baru?

Apa kamu datang hanya untuk membagi sedikit bahagia padaku dan lalu pergi lagi?

Ini lebih menyakitkan dari kesakitan beruntun beberapa tahun yang lalu.

Kamu tidak perlu membaca semua yang aku tulis. di sini (hati) nama kamu sudah terlanjur ada dan menetap. Aku tau, ini hanya sekedar nama. Bukan sosokmu.

Sekarang aku harus kembali berfikir tuk kembali mengobati hati. Hal yang paling aku takutkan tiba-tiba terjadim

Apa kamu tau, setiap harinya aku berjuang untuk melupakan dan menganggap semua ga pernah terjadi, tapi sulit.
Betapa mahal kebahagiaan itu hingga aku harus membayarnya dengan air mata setiap aku mengingat prilakumu. Ini sakit. Semua karena aku telah terlanjur sayang.

Tuhan, seandainya cerita ini ga pernah ada. Mungkin kini aku tidak perlu melakukan perjuangan apapun tuk kembali menata hati aku.
Kamu yang selalu meminta aku tuk genggam tanganmu kemana pun kamu pergi, tiba-tiba harus menggepalkan tanganku tuk kuat ketika berjalan sendiri. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu saat aku membuka mata.
Aku bagaimana? Serapuh apa? Sesakit apa? Apa pernah terpikir itu?

Apa bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya jadi aku?
Ketika mereka bertanya kemana kamu. Aku bisa apa? Biaskah kau bayangkan bagaimana rasanya jadi aku ketika aku harus menahan tangis ketika mengingat semua kebohonganmu.

Aku yakin luka ini akan sembuh.
Tapi aku tak yakin bahwa aku akan baik-baik saja ketika aku kembali mengingat penyebab dari luka ini.



Baca Juga Artikel Mengenai :





No comments